Monday, 23 February 2015

BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PSIKOLOGI BELAJAR AGAMA

                                                                          BAB I
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP
PSIKOLOGI BELAJAR AGAMA

A.           Pengertian Psikologi Belajar Agama
Psikologi Belajar Agama terdiri atas tiga istilah, yaitu sebagai berikut:
1.    Psikologi, terdiri dari dua kata, yaitu psyche yang berarti jiwa, dan logos yang berarti ilmu,  dengan demikian pengertian psikologi secara harfiyah (etimologi = bahasa) adalah ilmu jiwa.  Sedangkan menurut istilah (terminologi) diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku individu daiam intemksi dengun lingkungannya.
2.    Belajur, berarti proses perubahan tingkah luku sebagai husil pengaiaman. Dapat juga diartikan sebagai proses usahu individu untuk memperoleh sesuutu yung bam duri keseluruhun tingkuh luku sebagai hasil duri pengalamannya. Tingkah laku individu itu dapat diklasifikasikan ke dalam jenis-Jenis berikut:
a.    Kognitif yaitu tingkah laku yang berhubungan dengan pengenalan atau pemahaman tentang diri dan Iingkungannya (fisik, sosial, budaya, dan agama). Dengan demikian tingkah laku ini rnerupakan aspek kemampuan intelektual individu,  seperti mengetahui sesuatu, berpikir, memecahkan masalah, mengambil keputusan, menilai dan meneliti.
b.    Afektif, yaitu tingkah laku yang mengandung penghayatan suatu emosi atau perasaan tertentu. Contohnya : ikhlas (ridla), senang, rnarah, sedih, menyayangi, mencintai, menerima, menyetujui, dan menolak.
c.    Konatif yaitu tingkah laku yang terkait dengan dorongan dari dalam dirinya untuk rnencapai suatu tujuan (sesuatu yang diinginkan), seperti : niat, motif, cita-cita, harapan, dan kehendak.
d.   Motorik, yaitu tingkah laku yang berupa gerak-gerik jasmaniah atau fisik, seperti : berjaian, beriari, makan, rninum,menulis, dan berolah raga.
3.    Aguma. Menurut bahasa sansakerta, agama berarti tidak kacau (a= tidak, gama = kacau). Dengan kata lain, agama merupakan tuntutan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan. Di dunia Barat terdapat suatu istilah umum imtuk pengertian agama ini, yaitu : religi, religie, religion, yang berarti melakukan suatu perbuatan dengan penuh penderitaan atau mati-matian; perbuatan ini berupa usaha atau sejenis peribadatan yang dilakukan berulang-ulang. Istilah lain bagi agama ini yang berasai dari bahasa arab, yaitu ”addiin’ yang berarti : hukum, perhitungan, kerajaan, kekuasaan, tuntutan, keputusan, dan pembalasan. Kesemuanya itu memberikan gambaran bahwa ”addiin” merupakan pengabdian dan penyerahan mutlak dari seorang hamba kepada Tuhan penciptanya dengan upacara dan tingkah laku tertentu sebagai manifestasi ketaatan tersebut (Moh.Syafaat, 1965).
Dari sudut sosiologi, Emile Durkheim (Ali Syari’ati, 1985 : 81) mengartikan agama sebagai ”Suatu kumpulan keyakinan Warisan nenek moyang dan perasaan-perasaan pribadi; suatu peniruan ierhadap modus-modus, ritual-ritual, aturan-aturan, konvensi-konvensi dan praktik-praktik yang secara sosial telah mantapselama generasi demi generasi”. Ogburn dan Nimhoff mengartikan agama sebagai ”Suatu pola kepercayaan-kepercayaan, sikap-sikap emosional dan praktik-praktik yang dipakai oleh sekelompok manusia untuk mencoba memecahkan masalah yang “ultimate” dalam kehidupan manusia” (Rasyidi,1974). WH, Clark (Aziz Ahyadi, 1981) berpendapat bahwa agama merupakan ”Penga1aman dunia dalarn seseorang tentang ketuhanan disertai keimanan dan peribadata_n". Sedemgkan rnenurut M. Natsir (Endang Saifuddin Anshari, 1969) agama merupakan "Saw kepercayaan dan Cara hidup yang mengandung faktor-faktor antara lain (a) percaya kepada Tuhan sebagai sumber dari segala hukum dan nilai-nilai hidup, (b) percaya kepada Wahyu Tuhan yang disampaikan kepada rasulnya, (C) percaya dengan adanya hubungan antara Tuhan dengan manusia, Ld) percaya dengan hubungan ini dapat mempengaruhi lwidupnya sehari-hari, (e) percaya bahwa dengan matinya seseorang, hidup rohnya tidak berakhir, (f) percaya dengan ibadat sebagai Cara mengadakan hubungan dengan Tuhan, dan (g) percaya kepada keridlaan Tuhan sebagai tujuan hidup di dunia ini". Sementara agama Islam dapat cliartikan sebagai ”Wahyu Allah yang diturunkan melalui para rasulNya sebagai pedoman hidup rnanusia di dunia, yang berisi peraturan (perintah dan larangan), agar manusia memperoleh kebahagiaan di dunia ini dan juga di akhirat kelak”. Wahyu Allah yang terakhir, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW., yang keseluruhannya termaktub dalam al-Quran. Kitab suci al-Quran mengandung peraluran-peraturan, perintah dan larangan yang terkait dengan keyakinan, sikap dan perilaku hidup manusia dari mulai hal-hal yang sederhana (seperti berdo’a ketika masuk WC) sampai kepada urusan yang besar, seperti : penataan kehidupan bernegara, kehidupan ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sosial-kemasyarakatan lainnya. Karena keterbatasan penulis untuk menemukan referensi tentang psikologi belajar agama ini, maka pengertian psikologi belajar agama yang penulis kemukakan disini hanya bersifat tentatif, yang mungkin masih memberikan peluang untuk diperdebatkan (debateable). Psikologi belajar agama dapat diartikan sebagai ”Ilmu yang mempelajari perkembangan dan aktualisasi tingkah laku beragama seseorung sebagui hasil pengalamun atau interuksi dengan lingkungannya”. Dari definisi tersebut ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan, yaitu sebagai berikut.

  1. Perkembangan tigkah laku beragamzz merupakan proses perubahan tingkah laku beragama secara kuantitatif (keluasan) maupxm kualitatif (kedalaman) sejak usia dini sampai usia tua atau sampai mati.
  2. Aktualisasi tingkah laku beraguma diartikan sebagai perwujudanatau realita tingkah laku beragama seseorang, yang bentuknya meliputi (a) kognisi, pengetahuan atau pemahaman tentang ajaran agama yang meliputi aqidah, ibadah, 1nu’ama1ah, dan akhlak; (b) afeksi, keyakinan, sikap dan perasaan beragama, (C) konasi, niat, atau motif beramal, serta (d) psikomotorik, perilaku jasmaniah beragama (seperti mernbaca dan menulis AI-Quran, berwudlu, shalat, thawaf, dan sa’i).
  3. Interaksi dengan lingkungzzn, yaitu hubungan interpersonal individu dengan orang-orang yang berada di lingkungannya, baik Iingkungan keluarga, sekolah, pesantren, madrasah, majlis ta'1im, maupun teman sebaya. Hubungan interpersonal itu, bisa tezjadi dalam suasana formal yaitu alarn suasana pendidikan di sekolah, madrasah, dan pesantren; atau tidak formal, seperti di lingkungan keluarga dan pergaulan teman sebaya.
  4. Hakikat beragarna dari segi kejiwaan
  5. Pemahaman agama antara shnbol-ritual dan makna esensial
  6. Faktor-faktor yang mernpengaruhi perkernbangan jiwa beragama atau internalisasi kesadaran beragama
  7. Karakteristik kesadaran beragama pada fase Balita
  8. Karakteristik kesadaran beragama pada fase Anak
  9. Karakteristik kesadaran beragama pada fase Remaja
  10. Karakteristik kesadaran beragama pada fase Dewasa
  11. Hikmah pendidikan aqidah terhadap kejiwaan
  12. Hikmah pendidikan ibadah terhadap kejiwaan
  13. Hikmah pendidikan akhlak terhadap kejiwaan
  14. Penerapan Reinforcement (Reward dan Punishment) dalam Proses Belajar Agarna
  15. Penelitian proses pembelajaran agama.

No comments:

Post a Comment